TERNYATA PANGLIMA ITU ADALAH SEBUAH KATA
Pernahkah engkau membayangkan, bagaimana jadinya dunia ini tanpa bahasa, tanpa suara dan tanpa kata-kata. Akan terasa sunyi, senyap, hening, membisu. Namun terkadang sebagian orang malah dengan sengaja menghindar, menjauhkan diri dari keramaian, kebisingan, keributan alam yang penuh dengan bahasa, suara dan kata-kata, hanya untuk mencari sedikit celah dari kedamaian, keheningan, kesunyian hingga berharap alam akan membisu saat itu. Dan iapun dapat membahasakan alam yang membisu dengan kata-kata yang telah dipilihnya dan disusunnya sendiri.
Sebut saja Descartes (1596-1650) yang sengaja menghindari keterikatan atau hubungan erat dalam pergaulan umum, hanya untuk menyendiri, mengasingkan diri agar dapat berfikir jernih dan seutuhnya secara orisinil, dapat merasakan saat-saat turunnya ilham murni yang di perolehnya, hingga dapat mengungkapkan wahyu-wahyu yang di terimanya secara luar biasa jernih. Karena ia begitu membanggakan intelek dan yakin akan daya pikirannya sendiri. Ia seorang pendiam, namun dalam diamnya, ia menjadi tokoh yang revolusioner dahsyat, dengan melontarkan karya-karyanya yang teramat jelas dan dengan bahasa yang bersahaja. Semuanya ia ungkapkan melalui kata-kata yang tersusun indah dan dapat dinikmati oleh semua orang.
Lain Descartes, lain pula Ralph Waldo Emerson (1803-1882), penyair, esais yang selalu dihubung-hubungkan dengan mashab Transendentalis ini di gelari “ filusuf pertama Amerika” pun menarik diri dari hiruk-pikuk keduniawian, mengasingkan diri dari bayang-bayang semu demi mengejar bayang-bayang kebenaran yang ia yakini keberadaannya, hanya karena ia tidak menyukai ritual anakronistik, hingga ia mengundurkan diri menjadi pendeta. Ia pernah di ramal ‘tak bakalan cemerlang’. Lantas dengan kekuatan kata-kata yang dimilikinya ia mampu melawan takdirnya dan menggagas sebuah kaliamat yang mengatakan bahwa “seluruh jagad-raya adalah metafora atau citra pantulan pikiran manusia “ yang ia tuangkan dalam risalah The Uses Of Natural History pada tahun 1833. Seperti Tolstoy, Camus dan banyak pemikir yang sebelah kakinya tertancap di dunia kata yakni dunia sastra, Emerson pun bukan seorang filusuf dalam arti sempit. Bukan pencipta, pembukti, pembenar atau penyangkal sistem-sistem pemikiran tertentu. Ia hanya mencerna dan mengisahkan keterkaitan antara alam raya dengan manusia, manusia dengan yang Ilahi, sebagaimana ia alami sehari-hari dalam kesendirian dan keterasingannya. Ia menuturka sendiri dengan kata-katanya bahwa “saya ini pembaca alamiah, dan hanya menjadi penulis lantaran langkanya penulis alamiah. Di zaman kelimpahan saya takkan mungkin menulis”. Dan Emerson pun memulai debut ketenarannya melalui kata-katanya yang syarat akan makna hingga mendunia.
Setelah itu kita bertemu dengan seorang “raksasa” yang lebih kontemporer; John Dewey (1859). Umumnya Dewey dianggap sebagai filusuf dan pembaharu pendidikan yang terbesar sepanjang abad ke-20. Dalam intelektualisme pendidikan, John Dewey adalah raksasa Liberalisme pendidikan. Sebagai peletak pondasi ‘Progresifisme Pendidikan’ (pendidikan progresif). Semua gagasannya mempengaruhi pendidikan. Dewey-lah yang paling jernih membeberkan kerumitan reformasi pendidikan. Meski tak ada yang menyangkal bahwa Dewey merupakan tonggak penting pendidikan abad ke-20, namun sosok pribadinya tergolong ‘misterius’, tidak jelas saking kompleksnya. Kepiawaiannya dalam mengolah kata-kata, mengantarkannya menjadi juru bicara kaum liberal. Peran Dewey sangat penting, bukan hanya berdasarkan apa yang ia katakan, tapi juga menurut apa yang konon ia katakan, atau tafsiran orang atas ungkapan gagasan-gagasannya. Dewey menghabiskan sisa hidupnya dengan melindungi diri dari kesalah-tafsiran orang terhadap gagasan-gagasannya. Dan dengan kekuatan kata-katanya John Dewey pun menjadi raksasa dalam intelektualisme pendidikan.
Dan masih banyak lagi para tokoh, pemikir yang memiliki kepiawaian dalam mengolah kata, menjadi kata yang dapat mengubah dan menggerakkan dunia. Tidakkah kita dapat merenung dari kisah-kisah orang besar yang dengan menggunakan kekuatan kata-katanya mampu mengubah dunia, dapat dikenang sepanjang masa. Dan dengan kekuatan kata-katanya pula mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang di perhitungkan dunia. Ternyata hanya dengan sebuah kata, mereka dapat menggerakkan dan mengubah dunia. Hanya dari kata-kata yang dikeluarkan melalui lisannya dapat diketahui tingkat keilmuan dan keintelektualan seseorang. Sejajar dengan ungkapan pepatah yang mengatakan “seseorang itu dilihat dari tutur kata dan budi bahasanya”. Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa panglima itu adalah sebuah kata.
Referensi:
-. Ahmad Tafsir. Filsafat umum akal dan hati sejak Thales sampai Capra. Rosdakarya. Bandung. 2003.
-. Noeng Muhadjir. Filsafat Ilmu kualitatif & kuantitatif untuk pengembangan ilmu dan penelitian. Rake Sarasin. Yogyakarta. 2006.
-. Paulo Freire, Ivan Illich dkk. Menggugat Pendidikan fundamentalis, konservatif, liberal, anarkis. Pustaka Pelajar. 2003.
Senin, 28 Desember 2009
Dunia Pendengkur
PARA PENDENGKUR
Pendengkur 1:
Hai..! pendengkur 2, kecilkan suara dengkuranmu, aku sungguh-sungguh terganggu dengan dengkuranmu itu, karena aku tidak dapat menikmati merdunya dengkuranku.
Pendengkur 2:
Hai pendengkur 2. Kau tak perlu ngoceh di dekatku, karena ocehanmu itu juga menggangu irama dengkuranku. Nikmati saja melodi dengkuranku yang syahdu.
Pendengkur 3:
Hai kalian pendengkur 1 dan pendengkur 2. tidakkah kalian sadar sesadar-sadarnya kalau perdebatan kalian itu juga telah menurunkan kualitas dengkuranku. Mengapa mesti saling menyalahkan. Mari kita mendengkur bersama-sama.
Pendengkur 1:
Aku tidak ingin mendengkur bersama siapapun. Karena bagiku para pendengkur yang lain akan mengganggu dan merusak merdunya dengkuranku.
Pendengkur 2:
Aku juga. Tidak mau dan tak sudi mendengkur bersama siapapun. Karena bagiku pendengkur yang lain akan merusak melodi dengkuranku yang syahdu.
Pendengkur 3:
Coba kalian perhatikan. Bukankah kau pendengkur 1 memiliki dengkuran yang begitu merdu. Dan kau pendengkur 2 memiliki irama dengkuran yang begitu syahdu dan aku pendengkur 3 memiliki kualitas dengkuran yang hebat. Maka mengapa kita tidak kolaborasikan saja dengkuran kita agar menghasilkan irama dengkuran yang kuat, merdu dan syahdu. Hebatkan..?
Pendengkur 1:
…????...
Pendengkur 2:
Rencana macam apa ini.
Pendengkur 3:
Hai…dengar dulu rencana ku ini. Kalau kita bertiga berkolaborasi dalam mendengkur, niscaya kita akan menghasilkan ritme dengkuran yang tiada duanya di dunia ini. Maka semua orang akan terlena dan ikut mendengkur pula. Bagaimana…?
Pendengkur 1:
Boleh juga
Pendengkur 2:
Itu artinya kita akan membuat dunia mendengkur…?
Pendengkur 3:
Tepat.! Cedas.! Brilian!
Coba kalian bayangkan betapa indahnya kalau disetiap penjuru dunia terdengar suara dengkuran. Tanpa saling mengganggu dan merusak dengkuran satu sama lain. Karena setiap dengkuran kita menghasilkan melodi dan ritme yang indah untuk dinikmati. Mari mendengkur sepuasnya…!!!
Pendengkur 1:
Khhhaaakhh,..fhiurrrr….khhhhaaaakkhhh….fhiurrrrr….
Pendenngkur 2:
Khhrooookhhh…gheerrr…khhhroookkhh…gherrrrrr….
Pendengkur 3:
Grooooogk…khuuu...grooooooogk…khuuuu...groooooooogk…
Orang tua berambut putih:
Datang membawa seember air kemudian menyiramnya tepat di wajah pendengkur 1, 2 dan 3.
Pendengkur 1, 2 dan 3:
Biuuuuur…
Khok..khok..khok.…terbatuk batuk karena kesedak air yang masuk melalui mulut mereka yang tegah menganga. Mendengkur.
Orang tua berambut putih:
Hai para pendengkur. Sudahkah engkau mengagungkan Rabb-mu malam ini..?
Hentikan dengkuran kalian itu..!. dan bersegeralah bangun mensucikan diri untuk memuji kebesarannya dan kemurahannya yang telah memberimu nikmat mendengkur.
Pendengkur 1:
Hai orang tua berambut putih. Siapakah gerangan dirimu tiba-tiba datang menyiram kami dengan seember air. Bukankah seharusnya kau juga tengah mendengkur, karena terlena dengan kolaborasi dengkuran indah kami ini.
Pendengkur 2:
Ia benar. Seharusnya saat ini kamu juga tengah mendengkur wahai orang tua berambut putih. Mengapa masih disini dan mengganggu kolaborasi dengkuran hebat kami.
Pendengkur 1:
Bukankah pendengkur 3 mengatakan kalau kolaborasi dengkuran hebat kami akan membuat dunia mendengkur dan tak ada satupun orang yang saling mengganggu dan terganggu dengan dengkuran masing-masing. Lantas mengapa masih ada juga orang yang menggagu dengkuran kami.
Pendengkur 2:
Iya,.. sebenarnya siapa engkau wahai orang tua berambut putih. Berani-beraninya menggangu kolaborasi dengkuran indah kami.
Orang tua berambut putih:
Hai para pendengkur. Meski kalian berhasil membuat dunia mendengkur dengan kolaborasi dengkuran indah dan hebat kalian, itu takkan mampu membuat mereka yang berfikir dan berakal terlena dan ikut mendengkur bersama kalian. Mereka malah bersyukur Karena dengkuran kalianlah yang mengganggu dengkurannya sehingga membuat mereka terbangun dan bersegera takbir mengangkat kedua tangannya mengagungnkan Rabb-nya.
Sekarang juga hentikan dengkuran kalian…!!! Karena para malaikat yang tengah berdzikir dan memuji kebesaran Tuhannya juga terganggu dengan dengkuran kalian itu.!
Pendengkur 1:
Hai pendengkur 3. Mengapa mengapa diam saja. Ternyata kau membodohi kami. Kalau dunia mendengkur siapa yang bakalan menikmati dengkuran hebat kami.
Pendengkur 2:
Hai pendengkur 3, Berani sekali kau membodohi kami. Kau mau kami lumatkan agar tidak bisa mendengkur sama sekali. Hah..!!!
Pendengkur 3:
Bukan…bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin agar kalian damai dan bisa menikmati dengkuran kalian sendiri tanpa harus merasa terganggu dengan dengkuran yang lain. Dan akupun ingin menikmati dengkuranku tanpa harus mendengar perdebatan kalian itu.
Orang tua berambut putih:
Wahai para pendengkur. Mengapa kalian masih disini memperdebatkan hal yang berarti. Sucikan badanmu, angkat kedua tanganmu dan lantangkan gema takbirmu dalam keagungan Tuhan-mu, engkau akan merasakan nikmatnya dengkuran berada dalam dekapan hangat Tuhan-mu. Dkalian tidak akan saling mengganggu dan merasa terganggu dengan dengkuran satu sama lain, para malaikatpun akan menikmati dengkuran suci kalian itu.
Pendengkur 1:
Hai..! pendengkur 2, kecilkan suara dengkuranmu, aku sungguh-sungguh terganggu dengan dengkuranmu itu, karena aku tidak dapat menikmati merdunya dengkuranku.
Pendengkur 2:
Hai pendengkur 2. Kau tak perlu ngoceh di dekatku, karena ocehanmu itu juga menggangu irama dengkuranku. Nikmati saja melodi dengkuranku yang syahdu.
Pendengkur 3:
Hai kalian pendengkur 1 dan pendengkur 2. tidakkah kalian sadar sesadar-sadarnya kalau perdebatan kalian itu juga telah menurunkan kualitas dengkuranku. Mengapa mesti saling menyalahkan. Mari kita mendengkur bersama-sama.
Pendengkur 1:
Aku tidak ingin mendengkur bersama siapapun. Karena bagiku para pendengkur yang lain akan mengganggu dan merusak merdunya dengkuranku.
Pendengkur 2:
Aku juga. Tidak mau dan tak sudi mendengkur bersama siapapun. Karena bagiku pendengkur yang lain akan merusak melodi dengkuranku yang syahdu.
Pendengkur 3:
Coba kalian perhatikan. Bukankah kau pendengkur 1 memiliki dengkuran yang begitu merdu. Dan kau pendengkur 2 memiliki irama dengkuran yang begitu syahdu dan aku pendengkur 3 memiliki kualitas dengkuran yang hebat. Maka mengapa kita tidak kolaborasikan saja dengkuran kita agar menghasilkan irama dengkuran yang kuat, merdu dan syahdu. Hebatkan..?
Pendengkur 1:
…????...
Pendengkur 2:
Rencana macam apa ini.
Pendengkur 3:
Hai…dengar dulu rencana ku ini. Kalau kita bertiga berkolaborasi dalam mendengkur, niscaya kita akan menghasilkan ritme dengkuran yang tiada duanya di dunia ini. Maka semua orang akan terlena dan ikut mendengkur pula. Bagaimana…?
Pendengkur 1:
Boleh juga
Pendengkur 2:
Itu artinya kita akan membuat dunia mendengkur…?
Pendengkur 3:
Tepat.! Cedas.! Brilian!
Coba kalian bayangkan betapa indahnya kalau disetiap penjuru dunia terdengar suara dengkuran. Tanpa saling mengganggu dan merusak dengkuran satu sama lain. Karena setiap dengkuran kita menghasilkan melodi dan ritme yang indah untuk dinikmati. Mari mendengkur sepuasnya…!!!
Pendengkur 1:
Khhhaaakhh,..fhiurrrr….khhhhaaaakkhhh….fhiurrrrr….
Pendenngkur 2:
Khhrooookhhh…gheerrr…khhhroookkhh…gherrrrrr….
Pendengkur 3:
Grooooogk…khuuu...grooooooogk…khuuuu...groooooooogk…
Orang tua berambut putih:
Datang membawa seember air kemudian menyiramnya tepat di wajah pendengkur 1, 2 dan 3.
Pendengkur 1, 2 dan 3:
Biuuuuur…
Khok..khok..khok.…terbatuk batuk karena kesedak air yang masuk melalui mulut mereka yang tegah menganga. Mendengkur.
Orang tua berambut putih:
Hai para pendengkur. Sudahkah engkau mengagungkan Rabb-mu malam ini..?
Hentikan dengkuran kalian itu..!. dan bersegeralah bangun mensucikan diri untuk memuji kebesarannya dan kemurahannya yang telah memberimu nikmat mendengkur.
Pendengkur 1:
Hai orang tua berambut putih. Siapakah gerangan dirimu tiba-tiba datang menyiram kami dengan seember air. Bukankah seharusnya kau juga tengah mendengkur, karena terlena dengan kolaborasi dengkuran indah kami ini.
Pendengkur 2:
Ia benar. Seharusnya saat ini kamu juga tengah mendengkur wahai orang tua berambut putih. Mengapa masih disini dan mengganggu kolaborasi dengkuran hebat kami.
Pendengkur 1:
Bukankah pendengkur 3 mengatakan kalau kolaborasi dengkuran hebat kami akan membuat dunia mendengkur dan tak ada satupun orang yang saling mengganggu dan terganggu dengan dengkuran masing-masing. Lantas mengapa masih ada juga orang yang menggagu dengkuran kami.
Pendengkur 2:
Iya,.. sebenarnya siapa engkau wahai orang tua berambut putih. Berani-beraninya menggangu kolaborasi dengkuran indah kami.
Orang tua berambut putih:
Hai para pendengkur. Meski kalian berhasil membuat dunia mendengkur dengan kolaborasi dengkuran indah dan hebat kalian, itu takkan mampu membuat mereka yang berfikir dan berakal terlena dan ikut mendengkur bersama kalian. Mereka malah bersyukur Karena dengkuran kalianlah yang mengganggu dengkurannya sehingga membuat mereka terbangun dan bersegera takbir mengangkat kedua tangannya mengagungnkan Rabb-nya.
Sekarang juga hentikan dengkuran kalian…!!! Karena para malaikat yang tengah berdzikir dan memuji kebesaran Tuhannya juga terganggu dengan dengkuran kalian itu.!
Pendengkur 1:
Hai pendengkur 3. Mengapa mengapa diam saja. Ternyata kau membodohi kami. Kalau dunia mendengkur siapa yang bakalan menikmati dengkuran hebat kami.
Pendengkur 2:
Hai pendengkur 3, Berani sekali kau membodohi kami. Kau mau kami lumatkan agar tidak bisa mendengkur sama sekali. Hah..!!!
Pendengkur 3:
Bukan…bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin agar kalian damai dan bisa menikmati dengkuran kalian sendiri tanpa harus merasa terganggu dengan dengkuran yang lain. Dan akupun ingin menikmati dengkuranku tanpa harus mendengar perdebatan kalian itu.
Orang tua berambut putih:
Wahai para pendengkur. Mengapa kalian masih disini memperdebatkan hal yang berarti. Sucikan badanmu, angkat kedua tanganmu dan lantangkan gema takbirmu dalam keagungan Tuhan-mu, engkau akan merasakan nikmatnya dengkuran berada dalam dekapan hangat Tuhan-mu. Dkalian tidak akan saling mengganggu dan merasa terganggu dengan dengkuran satu sama lain, para malaikatpun akan menikmati dengkuran suci kalian itu.
Rabu, 09 Desember 2009
MASA DEPAN DUNIA
“Telah nampak kerusakan dimuka bumi, disebabkan karena ulah tangan manusia”
Sesungguhnya Allah menjadikan jagad raya ini dalam hitungan yang jelas. dan menjadikan manusia sebagai khalifahnya. maka manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasa alam. Kearifan kuno menngajarkan keserasian antara HABIT, HABITUS dan HABITAT. Namun ketika manusia sebagai Habitus, ia mengambil sikap eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya. Itulah yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini. Karena hanya manusialah yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan alam, bukan makhluk lain. Seperti jin, Syeitan, iblis, kuntilanak, hantu, pocong, gendoruwo dan yang lainnya. Namun sehebat apapun kekuatan manusia untuk melawan alam, tidak mungkin akan bisa mengalahkannya. Apa yang bisa ditaklukkan manusia, terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas.
Hanya sebagian kecil saja dari manusia yang menyadari kalau bumi, laut, dan planet di sekitarnya, semuanya senantiasa melayani manusia. Matahari di perintahkan tuhan untuk menciptakan penguapan air laut, giliran angin yang membawanya ke daratan agar menjadi mendung dan hujan. Lalu bumi dengan gembira menampungnya dan menyuruh benih tanaman tumbuh untuk melayani kebutuhan manusia.
Demikianlah, ketika seharian manusia telah lelah bekerja, malam dipanggil untuk menyelimuti agar tidurnya lelap. Begitu pemurahnya bumi hingga disebut bumi pertiwi, sosok yang senantiasa mencintai, memberi dan melayani, tapi tak pernah mengharap balas budi.
Alam ini disebut kosmos karena indah dan teratur. Begitulah tuhan menciptakannya. Namun keserakahan manusialah yang kini merusak keindahan itu. Kerakusan manusialah yang memporak-porandakan keteraturan alam ini. Sebelum ilegall loging yang kian marak alam ini hijau, subur dan hidup selaras dengan penghuninya. Hasil bumi melimpah, hasil laut melimpah. Musim penghujan dan kemarau datang teratur tak pernah rebutan. Namun kini semua kacau balau. Musim penghujan dan kemarau saling berebut ingin lebih dulu tak peduli dengan jadwal dan keteraturan. Jadilah bagian bumi yang lain kering kerontang, karena kekurangan air dan bagian bumi yang lain justru banjir. Hasil bumi jadi tidak menentu. Musibah kelaparan menjadi menu sehari-hari.
Jelas sudah kemana arah masa depan dunia ini akan dibawa. Lihat saja tingkah polah penghuninya yang berebut bagai anjing yang tidak pernah di beri makan tuannya menggali, mengebor, menebang sembarangan tanpa memikirkan keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Setelah banjir, gempa bumi, tanah longsor mendekatinya, barulah mereka sadar akan kesalahan dan berani membuka mata. Katanya mulailah berbenah, dengan menggembar-gemborkan jargon masing-masing agar tampak menjadi seorang pahlawan MARI KEMBALI KE ALAM (back to nature), GO GREEN, UNTUK SATU JUTA POHON, bla..bla..bla.. kita lihat saja apakah jargon-jargon mereka itu mampu memperbaiki keadaan dunia dan membawanya ke arah yang lebih baik.
Semoga.
Jangan hanya bisa berdoa, berikan andil yang nyata. Karena bumi mereka adalah bumi kita juga..
Sesungguhnya Allah menjadikan jagad raya ini dalam hitungan yang jelas. dan menjadikan manusia sebagai khalifahnya. maka manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasa alam. Kearifan kuno menngajarkan keserasian antara HABIT, HABITUS dan HABITAT. Namun ketika manusia sebagai Habitus, ia mengambil sikap eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya. Itulah yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini. Karena hanya manusialah yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan alam, bukan makhluk lain. Seperti jin, Syeitan, iblis, kuntilanak, hantu, pocong, gendoruwo dan yang lainnya. Namun sehebat apapun kekuatan manusia untuk melawan alam, tidak mungkin akan bisa mengalahkannya. Apa yang bisa ditaklukkan manusia, terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas.
Hanya sebagian kecil saja dari manusia yang menyadari kalau bumi, laut, dan planet di sekitarnya, semuanya senantiasa melayani manusia. Matahari di perintahkan tuhan untuk menciptakan penguapan air laut, giliran angin yang membawanya ke daratan agar menjadi mendung dan hujan. Lalu bumi dengan gembira menampungnya dan menyuruh benih tanaman tumbuh untuk melayani kebutuhan manusia.
Demikianlah, ketika seharian manusia telah lelah bekerja, malam dipanggil untuk menyelimuti agar tidurnya lelap. Begitu pemurahnya bumi hingga disebut bumi pertiwi, sosok yang senantiasa mencintai, memberi dan melayani, tapi tak pernah mengharap balas budi.
Alam ini disebut kosmos karena indah dan teratur. Begitulah tuhan menciptakannya. Namun keserakahan manusialah yang kini merusak keindahan itu. Kerakusan manusialah yang memporak-porandakan keteraturan alam ini. Sebelum ilegall loging yang kian marak alam ini hijau, subur dan hidup selaras dengan penghuninya. Hasil bumi melimpah, hasil laut melimpah. Musim penghujan dan kemarau datang teratur tak pernah rebutan. Namun kini semua kacau balau. Musim penghujan dan kemarau saling berebut ingin lebih dulu tak peduli dengan jadwal dan keteraturan. Jadilah bagian bumi yang lain kering kerontang, karena kekurangan air dan bagian bumi yang lain justru banjir. Hasil bumi jadi tidak menentu. Musibah kelaparan menjadi menu sehari-hari.
Jelas sudah kemana arah masa depan dunia ini akan dibawa. Lihat saja tingkah polah penghuninya yang berebut bagai anjing yang tidak pernah di beri makan tuannya menggali, mengebor, menebang sembarangan tanpa memikirkan keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Setelah banjir, gempa bumi, tanah longsor mendekatinya, barulah mereka sadar akan kesalahan dan berani membuka mata. Katanya mulailah berbenah, dengan menggembar-gemborkan jargon masing-masing agar tampak menjadi seorang pahlawan MARI KEMBALI KE ALAM (back to nature), GO GREEN, UNTUK SATU JUTA POHON, bla..bla..bla.. kita lihat saja apakah jargon-jargon mereka itu mampu memperbaiki keadaan dunia dan membawanya ke arah yang lebih baik.
Semoga.
Jangan hanya bisa berdoa, berikan andil yang nyata. Karena bumi mereka adalah bumi kita juga..
AWAL dan AKHIR
Orang tua berambut pirang:
Kenalkan wahai orang tua berambut hitam. Aku adalah si tua berambut pirang. Aku datang dari tempat dimana orang-orang besar dan ternama dunia dilahirkan. Kenalkah kau dengan Descartes yang menemukan Geometri analitis, Newton yang menemukan Kalkulus, Gauss yang dapat membuktikan teorema-teorema dasar Aljabar, Reimann yang menemukan integral Riemann dan masih banyak lagi yang lain seperti Cauchy, Fermat, Michel Rolle, Brook taylor…dan..bla..bla..bla…
Orang tua berambut hitam:
Maaf orang tua berambut pirang, aku merasa tidak berkepentingan mengetahui dari mana kamu berasal dan akupun tak butuh mendengar uraian-uraianmu tentang kehebatan orang-orang di tempatmu beasal yang katamau telah mendunia. Karena semuanya biasa saja bagiku dan akan menjadi luar biasa bagiku kalau ternyata kamu adalah salah satu dari mereka yang kau sebutkan tersohor hingga seluruh dunia itu. Karena aku merasa akan menjadi orang yang begitu beruntung bisa bertemu dan menimba ilmu dari orang yang di puji seluruh dunia.
Orang tua berambut pirang:
Tetapi setidaknya kamu ikut bangga telah bertemu dengan orang yang berasal dari tempat yang sama dengan orang-orang besar itu.
Orang tua berambut hitam:
Apa yang harus aku banggakan darimu yang tak pernah memberiku sepotong, bahkan secuil kebaikan yang tak bisa menambahkan nilai lebih pada diriku. Jadi mengapa aku harus bangga padamu. Ternyata mereka yang kau sebutkan tadi juga berada di tempat yang sama denganku. Tempat dimana mereka pijakkan kaki mereka, di tempat itu juga ku pijakkan kaki ini. Tempat dimana mereka menghirup oksigen untuk bernafas dan melangsungkan hidup, di tempat itu juga aku bisa mengirup oksigen dan melangsungkan hidupku.
Orang tua berambut pirang:
Wahai orang tua berambut hitam, siapakah gerangan dirimu. Kalau boleh maka perkenalkanlah dirimu, seperti aku mengenalkan diriku padamu. Karena aku melihat tak sepantasnya engkau di sebut orang tua, sementara rambutmu masih hitam, lebat dan mengkilat, meski terlihat kerutan-kerutan di beberapa bagian wajahmu.
Orang tua berambut hitam:
Wahai orang tua berambut pirang, sesungguhnya aku adalah sama sepertimu, namun ketahuilah aku bukanlah dirimu dan bagaimana aku akan menjelaskannya kepadamu bahwa kamu juga adalah sama seperti diriku. Diriku dan dirimu adalah mimpiku dan mimpimu. Karena sebenar-benar diri kita adalah mimpi-mimpi kita.
Orang tua berambut pirang:
Jikalau sebenar-benar diriku dan dirimu adalah mimpiku dan mimpimu. Dan sebenar-benar kita adalah mimipi-mimpi kita. Maka dapat ku pastikan bahwa kau adalah penuntut, pencari, atau pemulung sepertiku.
Orang tua berambut hitam:
Baiklah. Kini saatnya aku berterus terang. Aku ingin berterus terang kepadamu. Tapi ketahuilah tidak berterus terang bukan berarti aku bohong, berterus terang juga bukan berarti aku jujur dengan sejujur-jujurnya. Aku memanglah seorang penuntut, pencari, pemulung, pengais dan apalagi istilah yang lain. Seperti Issac Newton yang terus-menerus mencari jawaban atas jatuhnya buah apel yang dilihatnya, seperti Gauss yang terus-menerus berusaha mengais dengan segenap pikirannya hingga dapat membuktikan Teorema-teorema dasar Aljabar, seperti Cauchy yang terus menerus memulung konsep-konsep limit hingga dapat menyempurnakannya menjadi lebih akurat.
Orang tua berambut pirang:
Mengapa kamu memilih untuk menenggelamkan diri pada masalah yang sebagian besar orang tidak menyukainya bahkan membencinya. Masalah yang sebagian besar orang menghujatnya, namun keseluruhan dari mereka justru yang berada pada baris pertama dan terdepan saat menikmati hasil dari sesuatu yang mereka benci dan yang mereka cemoohkan. Sungguh manusia memang kontradiksi.
Oranng tua berambut hitam:
Tanyakanlah itu pada dirimu, hatimu dan pikirkanamu sendiri. Bukankah aku sama sepertimu?
Orang tua berambut pirang:
Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang belum pernah di temukan orang sebelumnya dan bisa digunakan sepanjang usia bumi ini dan dikenang oleh dunia selamanya. Seperti Newton yang telah menemukan kalkulus, hingga memudahkan penduduk bumi dalam menghitung berbagai aspek dalam kehidupan mereka, integral Riemann dan integral Lebesgue, logharitma oleh Al-khawarisme, Gauss dengan Dasar Aljabarnya. Yang kesemuanya sungguh sangat bermanfaat hingga kini, akan datang dan selamanya. Untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bumi. Tanpa temuan-temuan dari meraka orang-orang hebat itu mungkin kondisi penduduk bumi saat ini sama saja dengan masa Archaid, tanpa peradaban. Mereka itu adalah pahlawan sepanjang zaman.
Orang tua berambut hitam:
Akupun demikian wahai orang tua berambut pirang, aku ingin berbeda dengan yang lain. Karena aku ingin memberikan maslahat bagi ummat. Dan aku tengah berusaha sekemampuanku hingga batas maksimal dari kekuatanku. Aku ingin menjadi pahlawan seperti orang-orang yang kau sebutkan tadi. Zaman tanpa pahlawan adalah sebuah peradaban yang mandul. Karena para pahlawan menjadi symbol kekuatan sebuah peradaban, dan peradaban memberi ruang yang luas bagi munculnya para pahlawan. Hilangnya para pahlawan adalah isyarat matinya sebuah peradaban.
Orang tua berambut pirang:
Maka berakhirlah sebuah peradaban kalau tidak bisa melahirkan para pahlawan. Itukah yang kau maksud wahai orang tua berambut hitam.?
Orang tua berambut hitam:
Benar. Namun antara ucapanmu dan keinginanmu terjadi kontradiksi. Mana mungkin engkau berkeinginan menjadi pahlawan sepanjang zaman dengan mengatakan akan menemukan sesuatu yang tidak pernah ditemukan.
Ketahuilah sesungguhnya para pendahulumupun menemukan sesuatu yang baru dari Sesuatu yang sudah lama ada, namun belum bisa di temukan oleh orang lain hingga ia berusaha dari awal untuk menemukannya, dan namanya pun di kenang sampai sekarang. Begitu juga dengan dirimu, kalaupun menemukan sesuatu yang kau anggap baru, maka sesungguhnya temuanmu itupun berasal dari sesuatu yang sudah lama ada yang sejak awal jagad ini diciptakan hingga akhir nanti memang sudah ada. Karena seluruh material yang ada telah disediakan oleh yang Maha Pencipta yang menciptakan semuanya dengan hitungan yang jelas, yang Maha menjadikan sesuatu yang baru. Dan kita hanya mengolah dan mengelola yang sudah ada saja, membuatnya menjadi sesuatu yang baru.
Orang tua berambut pirang:
Bukankan yang kau sebut awal dari sesuatu itu bisa jadi merupakan sebuah akhir dari sesuatu yang lain. Dan sesuatu yang kau sebuat akhir dari sesuatu itu mewnjadi permulaan atau awal dari sesuatu yang lain juga. Karena itulah mengapa kau mengatakan hidup ini penuh dengan kontradiksi.
Kenalkan wahai orang tua berambut hitam. Aku adalah si tua berambut pirang. Aku datang dari tempat dimana orang-orang besar dan ternama dunia dilahirkan. Kenalkah kau dengan Descartes yang menemukan Geometri analitis, Newton yang menemukan Kalkulus, Gauss yang dapat membuktikan teorema-teorema dasar Aljabar, Reimann yang menemukan integral Riemann dan masih banyak lagi yang lain seperti Cauchy, Fermat, Michel Rolle, Brook taylor…dan..bla..bla..bla…
Orang tua berambut hitam:
Maaf orang tua berambut pirang, aku merasa tidak berkepentingan mengetahui dari mana kamu berasal dan akupun tak butuh mendengar uraian-uraianmu tentang kehebatan orang-orang di tempatmu beasal yang katamau telah mendunia. Karena semuanya biasa saja bagiku dan akan menjadi luar biasa bagiku kalau ternyata kamu adalah salah satu dari mereka yang kau sebutkan tersohor hingga seluruh dunia itu. Karena aku merasa akan menjadi orang yang begitu beruntung bisa bertemu dan menimba ilmu dari orang yang di puji seluruh dunia.
Orang tua berambut pirang:
Tetapi setidaknya kamu ikut bangga telah bertemu dengan orang yang berasal dari tempat yang sama dengan orang-orang besar itu.
Orang tua berambut hitam:
Apa yang harus aku banggakan darimu yang tak pernah memberiku sepotong, bahkan secuil kebaikan yang tak bisa menambahkan nilai lebih pada diriku. Jadi mengapa aku harus bangga padamu. Ternyata mereka yang kau sebutkan tadi juga berada di tempat yang sama denganku. Tempat dimana mereka pijakkan kaki mereka, di tempat itu juga ku pijakkan kaki ini. Tempat dimana mereka menghirup oksigen untuk bernafas dan melangsungkan hidup, di tempat itu juga aku bisa mengirup oksigen dan melangsungkan hidupku.
Orang tua berambut pirang:
Wahai orang tua berambut hitam, siapakah gerangan dirimu. Kalau boleh maka perkenalkanlah dirimu, seperti aku mengenalkan diriku padamu. Karena aku melihat tak sepantasnya engkau di sebut orang tua, sementara rambutmu masih hitam, lebat dan mengkilat, meski terlihat kerutan-kerutan di beberapa bagian wajahmu.
Orang tua berambut hitam:
Wahai orang tua berambut pirang, sesungguhnya aku adalah sama sepertimu, namun ketahuilah aku bukanlah dirimu dan bagaimana aku akan menjelaskannya kepadamu bahwa kamu juga adalah sama seperti diriku. Diriku dan dirimu adalah mimpiku dan mimpimu. Karena sebenar-benar diri kita adalah mimpi-mimpi kita.
Orang tua berambut pirang:
Jikalau sebenar-benar diriku dan dirimu adalah mimpiku dan mimpimu. Dan sebenar-benar kita adalah mimipi-mimpi kita. Maka dapat ku pastikan bahwa kau adalah penuntut, pencari, atau pemulung sepertiku.
Orang tua berambut hitam:
Baiklah. Kini saatnya aku berterus terang. Aku ingin berterus terang kepadamu. Tapi ketahuilah tidak berterus terang bukan berarti aku bohong, berterus terang juga bukan berarti aku jujur dengan sejujur-jujurnya. Aku memanglah seorang penuntut, pencari, pemulung, pengais dan apalagi istilah yang lain. Seperti Issac Newton yang terus-menerus mencari jawaban atas jatuhnya buah apel yang dilihatnya, seperti Gauss yang terus-menerus berusaha mengais dengan segenap pikirannya hingga dapat membuktikan Teorema-teorema dasar Aljabar, seperti Cauchy yang terus menerus memulung konsep-konsep limit hingga dapat menyempurnakannya menjadi lebih akurat.
Orang tua berambut pirang:
Mengapa kamu memilih untuk menenggelamkan diri pada masalah yang sebagian besar orang tidak menyukainya bahkan membencinya. Masalah yang sebagian besar orang menghujatnya, namun keseluruhan dari mereka justru yang berada pada baris pertama dan terdepan saat menikmati hasil dari sesuatu yang mereka benci dan yang mereka cemoohkan. Sungguh manusia memang kontradiksi.
Oranng tua berambut hitam:
Tanyakanlah itu pada dirimu, hatimu dan pikirkanamu sendiri. Bukankah aku sama sepertimu?
Orang tua berambut pirang:
Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang belum pernah di temukan orang sebelumnya dan bisa digunakan sepanjang usia bumi ini dan dikenang oleh dunia selamanya. Seperti Newton yang telah menemukan kalkulus, hingga memudahkan penduduk bumi dalam menghitung berbagai aspek dalam kehidupan mereka, integral Riemann dan integral Lebesgue, logharitma oleh Al-khawarisme, Gauss dengan Dasar Aljabarnya. Yang kesemuanya sungguh sangat bermanfaat hingga kini, akan datang dan selamanya. Untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bumi. Tanpa temuan-temuan dari meraka orang-orang hebat itu mungkin kondisi penduduk bumi saat ini sama saja dengan masa Archaid, tanpa peradaban. Mereka itu adalah pahlawan sepanjang zaman.
Orang tua berambut hitam:
Akupun demikian wahai orang tua berambut pirang, aku ingin berbeda dengan yang lain. Karena aku ingin memberikan maslahat bagi ummat. Dan aku tengah berusaha sekemampuanku hingga batas maksimal dari kekuatanku. Aku ingin menjadi pahlawan seperti orang-orang yang kau sebutkan tadi. Zaman tanpa pahlawan adalah sebuah peradaban yang mandul. Karena para pahlawan menjadi symbol kekuatan sebuah peradaban, dan peradaban memberi ruang yang luas bagi munculnya para pahlawan. Hilangnya para pahlawan adalah isyarat matinya sebuah peradaban.
Orang tua berambut pirang:
Maka berakhirlah sebuah peradaban kalau tidak bisa melahirkan para pahlawan. Itukah yang kau maksud wahai orang tua berambut hitam.?
Orang tua berambut hitam:
Benar. Namun antara ucapanmu dan keinginanmu terjadi kontradiksi. Mana mungkin engkau berkeinginan menjadi pahlawan sepanjang zaman dengan mengatakan akan menemukan sesuatu yang tidak pernah ditemukan.
Ketahuilah sesungguhnya para pendahulumupun menemukan sesuatu yang baru dari Sesuatu yang sudah lama ada, namun belum bisa di temukan oleh orang lain hingga ia berusaha dari awal untuk menemukannya, dan namanya pun di kenang sampai sekarang. Begitu juga dengan dirimu, kalaupun menemukan sesuatu yang kau anggap baru, maka sesungguhnya temuanmu itupun berasal dari sesuatu yang sudah lama ada yang sejak awal jagad ini diciptakan hingga akhir nanti memang sudah ada. Karena seluruh material yang ada telah disediakan oleh yang Maha Pencipta yang menciptakan semuanya dengan hitungan yang jelas, yang Maha menjadikan sesuatu yang baru. Dan kita hanya mengolah dan mengelola yang sudah ada saja, membuatnya menjadi sesuatu yang baru.
Orang tua berambut pirang:
Bukankan yang kau sebut awal dari sesuatu itu bisa jadi merupakan sebuah akhir dari sesuatu yang lain. Dan sesuatu yang kau sebuat akhir dari sesuatu itu mewnjadi permulaan atau awal dari sesuatu yang lain juga. Karena itulah mengapa kau mengatakan hidup ini penuh dengan kontradiksi.
Kesalahan terendah dan tertinggi
SALAH:
Benarkah engkau tidak akan pernah memaafkan kesalahanku. Padahal aku telah berulang kali meminta maaf padamu. Sekeras itukah hatimu sahabatku?. Sadarlah, bahwa kita ini hanyalah makhluk, yang seringkali berlaku salah dan khilaf. Maka wajar saja kalau aku melakukan kesalahan. Karena aku adalah makhluk.
BENAR:
Aku sadar. Dengan sepenuh-penuhnya kesadaran akan keberadaanku sebagai makhluk. Namun apakah layak di sebut makhluk kalau terus menerus melakukan kesalahan. Dan kamu terus saja melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Dan meminta maaf kembali.
SALAH:
Oke.! Aku tahu aku salah, dan sepatutnya kamu persalahkan. Tapi aku kan sudah minta maaf, mengapa kamu membuatnya menjadi semakin sulit. Tuhan saja Maha pemaaf. Akh..
BENAR:
Meminta maaf itu memang gampang. Sangat gampang. Hanya dengan mengatakan, maafkan aku, aku minta maaf, atau sorry. Dan begitu pula dengan memafkan, mudah sekali. Cukup mengatakan, aku maafkan atau sudah tidak apa-apa.
SALAH:
Nah. Kamu tahu itu. Lantas mengapa kamu tidak juga mau memaafkanku. Mengapa..? apa karena kamu selalu saja melakukan hal yang benar, lantas tidak pernah merasa salah.
BENAR:
Tahukah kamu. Ketika kamu berbuat kesalahan kepada orang lain, seolah-olah kamu tengah menancapkan paku pada hati orang yang tengah kamu sakiti. Terasa sakit. Perih. Lalu kamu meminta maaf dengan mencabut paku yang telah kamu tancapkan itu.
SALAH:
Iya. Dan setelah itu urusan selesai. Beres. Apalagi. Kita bisa memulainya dari awal lagi bukan.?
BENAR:
Nah itulah kesalahanmu, selalu menganggap sesuatu itu dengan begitu gampang dan mudah. Padahal semua itu tidak segampang dan semudah yang kau pikirkan.
SALAH:
Wahai sahabatku.. Apa yang kamu anggap selalu benar tak semua orang menganggapnya benar, dan apa yang kamu anggap salah tak semua orang mengatakan salah. Jadi aku dan dirimu itu adalah sama-sama kontradiksi. Benar itu adalah salah dan salah itu juga benar. Jadi mengapa engkau menganggap dirimu lebih baik dari aku atau aku lebih buruk dari dirimu.
BENAR:
Aku tak pernah berkata seperti itu. Menganggap diriku lebih baik daraimu atau menganggap dirimu lebih buruk dariku. Sesungguhnya kita itu sama dan tak berbeda.
Benarkah engkau tidak akan pernah memaafkan kesalahanku. Padahal aku telah berulang kali meminta maaf padamu. Sekeras itukah hatimu sahabatku?. Sadarlah, bahwa kita ini hanyalah makhluk, yang seringkali berlaku salah dan khilaf. Maka wajar saja kalau aku melakukan kesalahan. Karena aku adalah makhluk.
BENAR:
Aku sadar. Dengan sepenuh-penuhnya kesadaran akan keberadaanku sebagai makhluk. Namun apakah layak di sebut makhluk kalau terus menerus melakukan kesalahan. Dan kamu terus saja melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Dan meminta maaf kembali.
SALAH:
Oke.! Aku tahu aku salah, dan sepatutnya kamu persalahkan. Tapi aku kan sudah minta maaf, mengapa kamu membuatnya menjadi semakin sulit. Tuhan saja Maha pemaaf. Akh..
BENAR:
Meminta maaf itu memang gampang. Sangat gampang. Hanya dengan mengatakan, maafkan aku, aku minta maaf, atau sorry. Dan begitu pula dengan memafkan, mudah sekali. Cukup mengatakan, aku maafkan atau sudah tidak apa-apa.
SALAH:
Nah. Kamu tahu itu. Lantas mengapa kamu tidak juga mau memaafkanku. Mengapa..? apa karena kamu selalu saja melakukan hal yang benar, lantas tidak pernah merasa salah.
BENAR:
Tahukah kamu. Ketika kamu berbuat kesalahan kepada orang lain, seolah-olah kamu tengah menancapkan paku pada hati orang yang tengah kamu sakiti. Terasa sakit. Perih. Lalu kamu meminta maaf dengan mencabut paku yang telah kamu tancapkan itu.
SALAH:
Iya. Dan setelah itu urusan selesai. Beres. Apalagi. Kita bisa memulainya dari awal lagi bukan.?
BENAR:
Nah itulah kesalahanmu, selalu menganggap sesuatu itu dengan begitu gampang dan mudah. Padahal semua itu tidak segampang dan semudah yang kau pikirkan.
SALAH:
Wahai sahabatku.. Apa yang kamu anggap selalu benar tak semua orang menganggapnya benar, dan apa yang kamu anggap salah tak semua orang mengatakan salah. Jadi aku dan dirimu itu adalah sama-sama kontradiksi. Benar itu adalah salah dan salah itu juga benar. Jadi mengapa engkau menganggap dirimu lebih baik dari aku atau aku lebih buruk dari dirimu.
BENAR:
Aku tak pernah berkata seperti itu. Menganggap diriku lebih baik daraimu atau menganggap dirimu lebih buruk dariku. Sesungguhnya kita itu sama dan tak berbeda.
Minggu, 01 November 2009
Cinta
From: Kang Abik
Ibu,..
aku mencintaimu
seperti laut
mencintai airnya
tak mau kurang
selamanya...
From: Aa'-Q
Andaikan Matahari enggan untuk terbit
cukuplah Rindumu sebagai pelita hatiku,..
From: Wiji (Aq ingin jd pluru)
Ibu adalah hati yg menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu]adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
membangkitkan haru insan
Ibu,..
aku mencintaimu
seperti laut
mencintai airnya
tak mau kurang
selamanya...
From: Aa'-Q
Andaikan Matahari enggan untuk terbit
cukuplah Rindumu sebagai pelita hatiku,..
From: Wiji (Aq ingin jd pluru)
Ibu adalah hati yg menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu]adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
membangkitkan haru insan
Motivasi
From: KK Gendat
Tuk menggapai aktualisasi diri diperlukan suasana yang kondusif.
karena suasana yang kondusif akan melahirkan ide-ide mulia
dari pikiran yang jernih dan hati yang mulia.
From: Husna
Lelaplah dengan Asma Tuhanmu yang menghidupkan dan yang mematikan
Terjagalah bersama Puji Tuhanmu seiring semesta alam memuji
Dan yang pasti,..
Mentari menanti senyummu esok pagi
Seiring tetes embun sejukkan bumi
Biarkan ia terlepas
biarkan ia tuntas
Temukan noktah pemiliknya
dalam alunan Syai'at-Nya
From: BQ.Halimah
Ketulusan,...
adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli
perbuatanyang bisa dilihat oleh orang buta
dari itu,...
mari kita berusaha untuk selalu tulus
dalam setiap amal
From: Husna
Setiap susut Bumi dibasahi alunan takbir yang menyejukkan
akankah kita kan lalai untuk mengingat-Dia,..?
From: Wiji(Aq ingin jd pluru,14)
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan
jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengungkapkan apa maumu
terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
akan dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan
From: Wiya to Bani Hamzah
Demi semangat
yang telah kau berikan dalam hidupku
aku berjanji
untuk menjadi yang terbaik
untuk mereka yang mencintaiku
From: Bulatk
Wanita yang sukses
akan didoakan dan dipuji suaminya
disenangi tetangganya
serta dihormati teman-temannya
persiapkanlah semua,..
From: Bulatk
Selamat bagimu,..
wahai wanita yang terpelajar
berwawasan luas
sadar dan cerdas
pendidik para pahlawan
dan,..
pencetak orang-orang besar,..
From: Bulatk
Pastikan anda ingin menjadi apa
melakukan apa
dan memiliki apa
pikirkan pikiran-pikiran itu
pancarkan frekwensinya
visi anda akan menjadi hidup
From: Nurul
Menjadi muslimah,..
adalah, menjadi kain putih
lalu,..
Allah mencelupkanNya
menjadi warna pelangi
warna,..
KETEGASAN, KESEJUKAN
KECERIAAN dan,..
warna CINTA
semoga warna-warna pelangi itu
ada pada dirimu
From: Nurul
Para pemburu Syurga
tidak akan berhenti
pada tahap mimpi
ada asa yang harus diwujudkan
ada pengorbanan yang harus dikeluarkan
dan,..
ada karya nyata yang harus dipersembahkan
keindahan perjuangan
adalah,..
ketika kita menyadari
akan beratnya perjuangan itu
lalu,..
menorehnya dengan pena kesabaran
dalam lembar-lembar keikhlasan
semoga keletihan kita
akan lebih bermakna
From: Nurul
3 hal yang tak pernah kembali
Wkatu, ucapan dan kesempatan
3 hal yang jangan sampai hilang
Kehormatan, harapan dan kejujuran
3 hal yang paling berharga dalam hidup
Cinta Allah, kepercayaan dan persaudaraan
From: Nurul
Selamat pagi jagad raya,..
masihkah ia sejuk
sesejuk embun di pagi hari,..?
masihkah ia kokoh..?
sekokoh karang di lautan luas
masihkah ia terang..?
seterang mentari
yang tak pernah lelah
memberikan cahaynya
semoga hari ini
kita lalui dalam ketaatan kepada-Nya
Tuk menggapai aktualisasi diri diperlukan suasana yang kondusif.
karena suasana yang kondusif akan melahirkan ide-ide mulia
dari pikiran yang jernih dan hati yang mulia.
From: Husna
Lelaplah dengan Asma Tuhanmu yang menghidupkan dan yang mematikan
Terjagalah bersama Puji Tuhanmu seiring semesta alam memuji
Dan yang pasti,..
Mentari menanti senyummu esok pagi
Seiring tetes embun sejukkan bumi
Biarkan ia terlepas
biarkan ia tuntas
Temukan noktah pemiliknya
dalam alunan Syai'at-Nya
From: BQ.Halimah
Ketulusan,...
adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli
perbuatanyang bisa dilihat oleh orang buta
dari itu,...
mari kita berusaha untuk selalu tulus
dalam setiap amal
From: Husna
Setiap susut Bumi dibasahi alunan takbir yang menyejukkan
akankah kita kan lalai untuk mengingat-Dia,..?
From: Wiji(Aq ingin jd pluru,14)
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan
jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengungkapkan apa maumu
terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
akan dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan
From: Wiya to Bani Hamzah
Demi semangat
yang telah kau berikan dalam hidupku
aku berjanji
untuk menjadi yang terbaik
untuk mereka yang mencintaiku
From: Bulatk
Wanita yang sukses
akan didoakan dan dipuji suaminya
disenangi tetangganya
serta dihormati teman-temannya
persiapkanlah semua,..
From: Bulatk
Selamat bagimu,..
wahai wanita yang terpelajar
berwawasan luas
sadar dan cerdas
pendidik para pahlawan
dan,..
pencetak orang-orang besar,..
From: Bulatk
Pastikan anda ingin menjadi apa
melakukan apa
dan memiliki apa
pikirkan pikiran-pikiran itu
pancarkan frekwensinya
visi anda akan menjadi hidup
From: Nurul
Menjadi muslimah,..
adalah, menjadi kain putih
lalu,..
Allah mencelupkanNya
menjadi warna pelangi
warna,..
KETEGASAN, KESEJUKAN
KECERIAAN dan,..
warna CINTA
semoga warna-warna pelangi itu
ada pada dirimu
From: Nurul
Para pemburu Syurga
tidak akan berhenti
pada tahap mimpi
ada asa yang harus diwujudkan
ada pengorbanan yang harus dikeluarkan
dan,..
ada karya nyata yang harus dipersembahkan
keindahan perjuangan
adalah,..
ketika kita menyadari
akan beratnya perjuangan itu
lalu,..
menorehnya dengan pena kesabaran
dalam lembar-lembar keikhlasan
semoga keletihan kita
akan lebih bermakna
From: Nurul
3 hal yang tak pernah kembali
Wkatu, ucapan dan kesempatan
3 hal yang jangan sampai hilang
Kehormatan, harapan dan kejujuran
3 hal yang paling berharga dalam hidup
Cinta Allah, kepercayaan dan persaudaraan
From: Nurul
Selamat pagi jagad raya,..
masihkah ia sejuk
sesejuk embun di pagi hari,..?
masihkah ia kokoh..?
sekokoh karang di lautan luas
masihkah ia terang..?
seterang mentari
yang tak pernah lelah
memberikan cahaynya
semoga hari ini
kita lalui dalam ketaatan kepada-Nya
Langganan:
Postingan (Atom)
