Tampilkan postingan dengan label me at postgraduate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me at postgraduate. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2009

Sumpah Pemuda

bersumpahlah wahai pemuda..!!!
untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
kalimat " Sumpah Pemuda " yang dalam falsafah Jawa berarti " Kesatria "
esensinya bahwa seorang pemuda adalah seorang kesatria yang sanggup bela negara dengan sepenuh jiwa dan raga. bahwa seorang pemuda adalah kesatria yang sanggup membangun negeri dengan dengan segenap kemampuan yang ada. bahwa seorang pemuda adalah kesatria yang siap mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa.
maka tak salah jika dulu Bung Karno mengatakan:
"Beri aku 10 pemuda,... Maka akan ku goncangkan Dunia "
Sepuluh Pemuda berarti sepuluh Kesatria
yang dengan semangat dan kekuatannya tidak mustahil akan menggoncang dunia.
begitulah tingginya kepercayaan yang diberikan pada pemuda..
namun nyatanya kini, para pemuda yang disebut kesatria telah kehilangan semangat dan kekuatannya. kalau sudah demikian dengan apa para kesatria itu kini sanggup untuk bela negara..?.
jika sudah semangat dan kekuatan itu telah menghilang adanya, maka gelar kesatria tak layak lagi untuk disematkan padanya.. maka pemuda bukanlah lagi ikon dari seorang kesatria.
semangat sumpah pemuda yang dulu menggelora sepertinya kini perlu untuk di rekonstruksi kembali. agar Ruhnya bisa dirasakan generasai masa kini.
mulai saat ini.
bersumpahlah wahai pemuda
bersumpahlah wahai para kesatria.
untuk menyumbangkan yang terbaik bagi agama, keluarga dan bangsa..!
pemuda yang berguna adalah pemuda yang seutuhnya.
setara dengan ungkapan Rasulullah saw, yang mengatakan "Khairunnas anpauhum linnaas" dan bukankah Allah juga lebih mencintai pemuda yang kuat dari pada pemuda yang lemah.?

Rabu, 07 Oktober 2009

Kotak korek api

meski sayup terdengar jelas juga di telinga suara penyiar Jeronimo fm dari radio tua di kamar kostku. bertepatan dengan hari ulang tahun kota Jogja yang ke 253 salah satu VJ melemparkan tema yang aku pikir sangat menarik untuk kusimak sembari bersiap-siap berangkat ke kapus. opini demi opini dari para pendengar yang menelpon membuatku semakin tertarik untuk menyimaknya hingga akhir. sederhana saja tema yang di lemparkan untuk memancing opini pendengar, yakni " apa yang paling kamu harapkan di ulang tahun kota jogja kali ini"
penelpon pertama menjawab:" aku ingin kota jogja bebas polusi. terlebih di daerah Malioboro. aku ingin malioboro menjadi tempat yang enak dan nyaman untuk dikunjungi. intinya perluas lahan parkir."
penelpon kedua: "aku ingin bangunan2 bersejarah Jogja terbebas dari baliho serta iklan iklan dan membuat perda yang mengatur semua itu"
penelpon selanjutnya: " aku ingin pemerintah juga mewajibkan para pegawainya untuk menenakan sepeda ke kantor, jangan hanya para pelajar saja. mungkin istilahnya back to nature.
masih banyak lagi harapan, keinginan dari masyarakat jogja yang lain namun tidak bisa tersampaikan.
sebagai pendatang yang tengah menuntut ilmu disini, aku juga berhak untuk memiliki keinginan yang bisa membuatku merasa betah dan nyaman untuk tinggal di Jogja.
seperti hai ini dan hari hari sebelumnya. aku ingin transportasi Kobutri jalur 16 di perbanyak dan diperbaharui. agar akses ke kampus bisa lancar.
parahnya yang hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun kota jogja aku mendapat suprice kado yang betul-betul tak ku inginkan. yakni menunggu kobutri reot yang hampir setengah jam dan membuatku telat sampai ke kampus, begitu mendapat angkutan, malah angkutan sudah penuh sesak. dari pada terlambat lebih parah, aku terpaksa naik dan mendapat tempat duduk di tangga naik angkutan itu bersama penumpang yang lain dempet-dempetan. di dalam angkutan aku merasa seperti batang korek api yang ditumpuk dalam kotak korek api. pengap, penuh, sesak.
tapi apapun itu, aku turut mengucapkan. selamat ulang tahun kota Jogjakarta semoga bisa berbenah dan menjadi yang lebih baik lagi..

Selasa, 06 Oktober 2009

Jogja Berbatik

Aku membuka email dari teman kelas yang menganjurkan untuk mengenakan batik pada jam aktif perkuliahan. Mereka mengatakan “ demi rasa nasionalisme kita” dan itu membuatku tersenyum.
Siapa sih yang kenal batik Jogja, kemasyhurannya hampir sama dengan kemasyhuran negeri ini, karena batik sudah merupakan khas dan khazanah Indonesia yang tidak bias dipisahkan dari citra Indonesia itu sendiri. Batik dan Indonesia sudah menjadi satu kesatuan yang singkron dan saling menguatkan. Terlihat dari berbagai macam ragam corak batik itu sudah menggambarkan bagaimana kayanya Indonesia akan berbagai macam ragam dan corak budaya.
Oh..Indonesiaku..
Dari itu untuk melestarikan keindahan citra budaya Indonesia, Pemerintah menetapkan hari batik Nasional yang jatuhnya tepat pada hari 2 Oktober yang berdekatan dengan hari kesaktian pancasila. Untuk memperingati hari batik nasional pemkot DIY menghimbau kepada seluruh masyarakatnya untuk mengenakan batik selama tiga hari berturut.
Na,.. kasian yang gak punya batik kan…?... 
Hari gini gak punya batik,..? apa kata dunia…!!!
Pun demikian dengan teman-teman kelasku, untuk membuktikan rasa nasionalisme yang tinggi semua penghuni kelas di teror, baik melalui ponsel maupun email agar mengenakan batik pada jam kuliah selama tiga hari berturut.
ck,..ck,..ck..piye iki..?! :p
Terlihat jelas tiga hari berturut (kamis, jum’atdan sabtu) kota Jogja menjadi kota batik. Jogja membatik disana sini terlihat batik. Sekarang batik bukan hanya ada di etalase butik ataupun hanya tertumpuk di pasar Bringharjo, tapi kini batik telah menebar kenama arah angin meniupnya.
Tiga hari itu pemandangan kota Jogja berubah batik. Di sekolah-sekolah, di stasiun, di perkantoran semua berbatik. Yang tua, muda, anak-anak semua berbatik. Guru, pegawai, pelajar, tukang becak, petugas kebersihan, loper koran juga berbatik. Dan yang membuatku semakin kagum pemulung pun ikut berbatik. Seakan-akan bola matakupun tiga hari itu telah terukir batik. Aku melihat ke kiri, kana, atas, bawah semua bermotif batik.
Batik sudah merakyat. Tak peduli mereka pejabat maupun yang melarat semua berhak mengenakan batik. Batik menyatukan hati rakyat, batik menyimpul hati masyarakat. Batik menyatukan visi, semangat dan gelora nasionalisme bangsa.
Dalam kekagumanku. aku pun berfikir. “ Mengapa pemerintah begitu mengagung-agungkan batik dan mengapa hanya batik yang menjadi simbol khazanah negeri ini. Bukankah begitu banyak kostum budaya anak negeri yang layak untuk di banggakan dan ditampilkan..?”
Semakin ku berfikir rasa kecemburuan dan kesenjangan itu muncul begitu saja.
“ Mengapa batik, mengapa tidak songket, mengapa tidak kebaya, atau mengapa tidak koteka,..?”
Akhirnya aku membalas email temanku dengan mengatakan,.. “ Semoga pesan ini tidak menimbulkan SARA..!